321
Saya kira start lari
Ternyata aturan rambut
Nggak boleh pake pensil
Saya kira harus nulis pake pulpen
Ternyata celana pensil
Nggak boleh pendek
Saya kira tubuh kita harus tinggi
Ternyata kaos kaki
Selasa, 02 Oktober 2018
Senin, 01 Oktober 2018
Menuju 68
"Senangnya bersepeda dipagi hari", pikirku. Alam berseri-seri, bunga beraneka. Mahligai rama-rama, betajuk cahya jingga. Surya di cakrawala.
S'lalu berseri alam indah permai di khatulistiwa
Persada senyum tawa, hawa sejuk nyaman
Wajah pagi rupawan burung berkicau ria
Bermandi embun surga
Tujuanku adalah SMAN 68. Mendadak, rumah-rumah hancur lebur dengan sendirinya. Jalanan mulai retak, disusul dengan gempa yang dahsyat.
Satu pikiran terlintas dalam benakku, "apakah ini yang dinamakan kiamat?". Orang-orang mulai lari berhamburan. Gedung-gedung pencakar langit mulai rata dengan tanah. SPBU mulai terbakar & meledak.
Melihat keadaan yang semakin menggila, aku menutup mata & berdoa. Tiba-tiba muncul suara menggelegar yang bertubi-tubi, "tetet...tetet...tetet..."
Kubuka mataku, aku sudah berbaring di ruangan dingin yang gelap. Kukumpulkan segenap jiwa & ragaku, untuk memahami apa yang sedang terjadi. Ternyata, aku masih berada di dalam kamarku. "Alhamdulillah hanya mimpi", ucapku syukur dalam hati.
S'lalu berseri alam indah permai di khatulistiwa
Persada senyum tawa, hawa sejuk nyaman
Wajah pagi rupawan burung berkicau ria
Bermandi embun surga
Pasti dibaca sambil menyanyi
Memang nikmat bersepeda dipagi hari.Tujuanku adalah SMAN 68. Mendadak, rumah-rumah hancur lebur dengan sendirinya. Jalanan mulai retak, disusul dengan gempa yang dahsyat.
Satu pikiran terlintas dalam benakku, "apakah ini yang dinamakan kiamat?". Orang-orang mulai lari berhamburan. Gedung-gedung pencakar langit mulai rata dengan tanah. SPBU mulai terbakar & meledak.
Melihat keadaan yang semakin menggila, aku menutup mata & berdoa. Tiba-tiba muncul suara menggelegar yang bertubi-tubi, "tetet...tetet...tetet..."
Kubuka mataku, aku sudah berbaring di ruangan dingin yang gelap. Kukumpulkan segenap jiwa & ragaku, untuk memahami apa yang sedang terjadi. Ternyata, aku masih berada di dalam kamarku. "Alhamdulillah hanya mimpi", ucapku syukur dalam hati.
dari Aku untuk A
Terima kasih sudah menemaniku selama ini
Terima kasih sudah menjauhkanku dari dosa
Terima kasih sudah mengajakku melakukan kebaikan
Terima kasih sudah menerangkan pelajaran padaku
Terima kasih sudah meneguhkan imanku
Terima kasih sudah mengukuhkan mental & fisikku
Terima kasih
Terima kasih
dan terima kasih
Kuharap engkau tidak bosan menemaniku selama ini
Kuingin engkau selalu bersamaku selamanya
Hanya itulah pesanku
Sekali lagi,
Terima kasih A
Terima kasih sudah menjauhkanku dari dosa
Terima kasih sudah mengajakku melakukan kebaikan
Terima kasih sudah menerangkan pelajaran padaku
Terima kasih sudah meneguhkan imanku
Terima kasih sudah mengukuhkan mental & fisikku
Terima kasih
Terima kasih
dan terima kasih
Kuharap engkau tidak bosan menemaniku selama ini
Kuingin engkau selalu bersamaku selamanya
Hanya itulah pesanku
Sekali lagi,
Terima kasih A
Minggu, 19 November 2017
Mari Bernyanyi
Tak Mungkin-D'lloyd
Oh tak mungkin
Tak mungkin aku kembali
Oh tak mungkin
Tak mungkin ku datang lagi
Tak mungkin aku kembali
Oh tak mungkin
Tak mungkin ku datang lagi
Cukup sudah
Kau menyakiti hatiku
Cukup sudah
Kau berdusta padaku
Jangan kau datang lagi
Jangan kau hirau lagi
Diriku ini
Tiada sakit hati
Tiada arti lagi
Walaupun kau sayang pada diriku
Oh tak mungkin
Tak mungkin aku kembali
Oh tak mungkin
Tak mungkin ku datang lagi
Cukup sudah
Kau menyakiti hatiku
Cukup sudah
Kau berdusta padaku
Oh tak mungkin
Tak mungkin aku kembali
Oh tak mungkin
Tak mungkin ku datang lagi
Cukup sudah
Kau menyakiti hatiku
Cukup sudah
Kau berdusta padaku
Sebuah Cerita
Setia
Di suatu hutan yang luas, hiduplah berbagai binatang dengan damai.
Mereka menjalani hidup seperti biasa, predator memangsa buruannya, dan
buruannya harus dapat lepas dari jeratan sang pemangsa.
Akan tetapi mereka semua tidak melanggar sebuah sumpah yang telah
ditetapkan oleh para leluhur mereka. Sumpah tersebut berbunyi :
1. Kami Warga Hutan mengaku bertumpah darah
yang satu, tanah air Hutan
2. Kami Warga Hutan mengaku berbangsa yang
satu, bangsa Hutan
3. Kami Warga Hutan menjunjung tinggi bahasa
persatuan, bahasa Hutan
Sebelum
Sumpah terebut dibuat, banyak terjadi peperangan antar binatang dalam hutan
tersebut. Namun, setelah sumpah tersebut dibuat, kehidupan di hutan semakin
tenang, tidak ada permasalahan besar yang terjadi di sana.
Kedamaian
tersebut terus terjaga, sampai suatu hari, muncul seekor singa muda bernama
Dimas. Dia berjiwa pemberontak, arogan, serta sombong. Dia berencana untuk
melakukan perubahan terhadap sistem yang dianut oleh Hutan tersebut.
Dia berhasil
mengumpulkan sebuh pasukan besar, terdiri atas predator-predator tertangguh di
Hutan tersebut. Dimas dan pasukannya mengadakan sebuah pertemuan rahasia,
membahas cara mereka membuat Hutan tersebut menjadi daerah kekuasaan mereka.
Setelah melalui
berbagai pertimbangan, mereka memutuskan bahwa pengambilan aih Hutan tersebut
dapat dilaksanakan dengan melakukan satu hal. Yaitu membunuh Para Tetua, dan
menyebarkan berita tersebut, kemudian memaksa binatang lainnya untuk memilih
mereka sebagai Pemimpin Baru di Hutan
tersebut.
Tanpa
disadari, rencana mereka bocor. Salah seekor binatang yang sedang melewati
tempat pertemuan mereka tanpa sengaja mendengar isi daripercakapan mereka, dan
langsung memberitahukan hal tersebut kepada pihak yang berwenang.
Pihak yang
berwenang pun langsung bertindak dengan tegas. Mereka mempersiapkan armada
mereka, para binatang remaja, untuk melawan para pemberontak di Hari-H. Seluruh
persenjataan disiapkan, fisik dan mental para prajurit dipersiapkan. Sehingga,
dapat dilihat bahwa kedua belah pihak memiliki kekuatan yang sama.
Hari-H pun
datang. Peperangan dimulai oleh para pemberontak. Karena memiliki kekuatan yang
sama, kemenangan sulit untuk didapatkan. Sehingga terjadilah peperangan yang
sengit. Akan tetapi, karena didorong oleh semangat Sumpah Hutan, para Prajurit
Muda berhasil menumpas para pemberontak.
Kemudian,
untuk mengingat kejadian terebut, sehari setelah para pemberontak tersebut
berhasil ditumpas, hari tersebut dikenang sebagai Hari Kesaktian Sumpah Hutan.
Hutan
tersebut pun kembali hidup dengan tenang dan damai.
"Puisi"
Takdir
Tak ada yang pasti dalam hidup
Mungkin dihari esok bahagia
Mungkin pula merana
Mungkin dapat dirubah
Mungkin pula tidak
Hal misterius ini disebut takdir
Aneh jika dipikir
Untuk apa diciptakan
Mengapa tidak dibinasakan
Biarlah....
Toh mungkin ada tujuannya
Cukup yakini dengan sepenuh hati
Semoga surga sudah berada di
genggaman
(masih) Sebuah Resensi
Resensi
Judul
Buku : Pakem Slamet
Pengarang : Abah Jamhari bin Kasman
Pemerbit : Pustaka Pesantren
Pesan
Moral : 1. Pelajari agama dengan benar
2. Jangan takut bertanya, baik kepada diri
sendiri maupun kepada orang lain
3. Perbaiki kesalahan, bukan mencari
pembenaran atas kesalahan yang diperbuat
4. Manfaatkan waktu yang ada untuk berbuat
kebaikan
Buku
Pakem Slamet ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis dan
sahabatnya. Pengalaman-pengalaman menarik ini dibahas dalam pengajian tiap
minggu yang diadakan di rumah salah seorang sahabatnya. Awalnya, sang penulis
tidak ingin buku ini diterbitkan, tetapi, karena desakan dari keluarga dan
teman-temannya, akhirnya buku ini diterbitkan, mengingat pentingnya isi dari
buku ini.
Bab-bab
awal buku ini membahas beberapa pemahaman mendasar tentang Islam, pengalaman
penulis beserta para sahabatnya pada masa-masa awal mengenal Islam, serta
membahas Alam Universal/Alam Fenomena. Penulis pun mengkritik beberapa
pemikiran yang salah tentang Islam, kemudian memberikan solusi terhadap
pemikiran yang salah tersebut.
Bab-bab
pertengahan buku ini membahas pengalaman penulis beserta para sahabatnya pada
masa mengenal Islam lebih dalam. Muncul permasalahan dalam bab pertengahan ini,
karena mereka ternyata mendalami Islam yang salah, dan memasuki dunia hitam,
yang mereka pun tidak menyadari hal tersebut. Kemudian, satu persatu dari
mereka mulai menyadari apa yang telah dilakukannya dan mulai berusaha untuk
meninggalkan dunia tersebut.
Bab-bab
terakhir buku ini berisi pengalaman mereka setelah meninggalkan dunia hitam. Mereka
pun mendapatkan ketenangan batin yang luar biasa setelah meninggalkan dunia
itu. Kemudian, mereka mendalami Islam yang benar.
Buku
ini merupakan buku yang luar biasa, karena dapat mengisahkan masa-masa kelam
dengan jelas, sehingga para pembaca dapat terhindar dari terjerumus ke dalam
lubang yang sama. Pemakaian bahasa dalam buku ini pun sangat mudah untuk
dipahami, sehingga pembaca tidak kesulitan untuk memahami maksud dari penulis.
Langganan:
Postingan (Atom)